Menyusul serangkaian tragedi yang dialami oleh prajurit Filipina baru-baru ini, bencana udara terbaru semakin menimbulkan kecemasan di kalangan orang Filipina atas pembelian pesawat bekas buatan AS.
Filipina, sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik, terutama dilengkapi dengan senjata dan perangkat militer buatan AS.
Menurut dokumen Angkatan Udara Filipina (PAF), pesawat yang jatuh itu adalah C-130 Hercules bekas yang baru saja dibeli dari militer AS.
PAF mengatakan dalam sebuah pernyataan resmi bahwa pesawat itu memiliki nomor ekor "5125."
Menurut media lokal, C-130 Hercules NR 5125 pertama kali terbang pada tahun 1988, dan telah bertugas di Angkatan Udara AS hingga disimpan pada tahun 2016 sebelum dijual dan dikirim ke PAF pada Januari 2021.
Senator Francis Pangilinan mengatakan bahwa sementara pasukan mempertaruhkan nyawa mereka dalam menjalankan tugas mereka, "mereka layak mendapatkan peralatan dan perangkat keras yang lebih baik sehingga mereka aman kapan pun dalam penerbangan."
Amerika Serikat secara resmi menyerahkan pesawat itu dalam sebuah upacara pada bulan Februari.
Dalam pidatonya saat upacara serah terima pesawat pada bulan Februari, Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana menegaskan bahwa negaranya telah memperoleh dua pesawat C-130 Hercules melalui bantuan kerjasama keamanan.
"Dari total biaya 2,5 miliar peso (sekitar 50,89 juta dolar AS), Filipina hanya akan membayar 1,6 miliar peso (sekitar 32,57 juta dolar)," kata Lorenzana, menambahkan bahwa Amerika Serikat setuju untuk "memikul" sisa biayanya.
Kerjasama Militer yang Tidak Setara yang Mengakar