Sayangnya, di tengah kemerosotan ekonomi ini PM Narendra Modi justru belum menunjukkan upaya untuk menutup kerugian. Sebalinya, ia justru berusaha terus meingkatkan pengeluaran, terutama di sektor pertahanan.
Pilihan Modi memang cukup masuk akal jika melihat kondisi geopolitik India-China yang saat ini sedang memburuk. Tapi para pakar ekonomi menilai bahwa keputusan tersebut tidak masuk akal.
Kalaupun dipaksakan, ekonomi India tetap tidak akan mampu memberi dukungan lebih pada konflik perbatasan yang mungkin akan segera memburuk.
Pemerintah India melalui Kepala Staf Pertahanan Jenderal Bipin Rawat, sebelumnya telah mengklaim bahwa pasukan India siap untuk ditempatkan di segala kondisi, termasuk musim dingin.
Pernyataan petinggi militer India ini sedikit diragukan mengingat kondisi ekonomi India yang sedang rapuh. Pemerintah seolah mengabaikan kebutuhan ratusan juta warganya yang makin miskin selama pandemi.
India dianggap perlu menyadari betul dampak ekonomi yang nyata dari konflik perbatasan ini, termasuk jika perang terjadi nantinya.
Logistik dan segala pasokan militer akan terasa sangat mahal terlebih distribusi di musim dingin mendatang pastinya memerlukan usaha ekstra.
Jika pemerintah India belum mampu memulihkan kondisi ekonomi domestiknya, maka penanganan konflik perbatasan pun akan semakin sulit.(*)
Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul "Ekonomi India dianggap tak mampu atasi gejolak militer dengan China"