Begitu pula dengan petugas untuk pembacaan ikrar setia kepada NKRI, yang sebelumnya merupakan mantan napiter dan eks kombatan.
Kendati inspektur upacara masih diemban oleh Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung.
"Ini persiapan seminggu sebelum acara, jadi ada dari polisi yang mengajari kami di sini seminggu sebelumnya, jadi agak optimal juga," ujar Asadullah alias Sumarno, ditemui selepas upacara bendera.

Asadullah alias Sumarno (kiri) usai pelaksanaan upacara bendera 17 Agustus di asrama Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan.
Ia pun mengaku, mendapat ilmu baru saat dirinya dipercaya sebagai perwira upacara dalam agenda tersebut.
Sebuah tugas dan jabatan yang belum Sumarno rasakan atau alami sebelumnya. "Alhamdulillah dapat ilmu baru.
Tetap kita was-was karena enggak pernah menjadi petugas upacara dan kemudian disaksikan banyak orang.
Terutama kita yang dulunya mengucap Republik Indonesia saja repot, susah, lebih mudah menghafal (bahasa) Arab ya sekarang harus mengucap teks seperti itu," kata dia.
Namun Sumarno yang sempat diamankan karena terlibat dalam jaringan bom Bali 1 ini mengakui, jika apa yang sudah diperbuat olehnya ternyata salah dan kini berikrar setia kembali kepada NKRI.
"Dulu saya bagian pengirim eksplosive (bom) ke Bali dan juga menyimpan beberapa pucuk senjata," tutur Sumarno.
"Saya imbau kepada teman-teman, kita kembali kepada NKRI," sambungnya.