Sosok.ID - Hilang kontak pada Rabu (21/4/2021), KRI Nanggala-402 gagal ditemukan dalam waktu 72 jam.
Cadangan oksigen dalam kapal selam tersebut dikatakan hanya dapat bertahan selama 72 jam sejak dinyatakan hilang.
Hitungan 72 jam selesai pada Sabtu (24/4/2021) pukul 03.00 WIB.
Info terbaru mengutip Kompas TV, kepingan kapal selam KRI Nanggala-402 telah ditemukan.
Kapal tersebut terdeteksi tenggelam di kedalaman 850 meter.
Upaya evakuasi kapal selam dan awak kapal masih dilakukan TNI beserta tim penyelamat dan SAR, begitu pula sejumlah negara turut bergabung dalam pencarian.
Diketahui KRI Nanggala 402 mengangkut 53 awak kapal.
Kapal yang resmi menjadi alat utama sistem pertahanan (alutsista) pada 1981 memiliki perjalanan panjang menjaga perairan Indonesia.
Perjalanan kapal selam KRI Nanggala-402
Melansir Harian Kompas, 12 Juli 1981, kapal selam Nanggala-402 merupakan kapal selam buatan Jerman dengan bobot 1.200 ton.
Kapal tersebut diserahkan oleh Jerman pada 6 Juli 1981 bersama dengan Kapal Cakra.
Penyerahan KRI Nanggala 402 dilakukan setelah kapal selam menempuh percobaan pelayaran dan penyelaman di Jerman Barat selama beberapa waktu.
Kapal dibawa dari Jerman oleh Letkol Laut Armand Aksyah bersama 38 orang kru menuju tanah air sekitar awal Agustus 1981.
KRI Cakra dan KRI Nanggala ketika itu diharapkan mampu menggantikan kapal selam buatan Rusia yang saat itu sudah tua.
Sebelum kehadiran Nanggala, Indonesia memiliki 12 kapal selam buatan Rusia, yang ketika itu hanya tinggal satu yang masih bisa beroperasi yakni KRI Pasopati.
Kiprah KRI Nanggala-402
KRI Nanggala 402, telah berkiprah menjaga perairan Indonesia selama 40 tahun lamanya bersama dengan kapal selam Cakra 401.
Melansir Harian Kompas, 9 September 2009, pengamat militer F Djoko Poerwoko menjelaskan kapal selam bertugas dalam senyap yang jauh dari kegiatan publikasi.
Namun salah satu aktivitas kapal selam Nanggala-402 yang masih sempat tercatat adalah saat ia menjadi kapal selam yang diluncurkan ketika sengketa Indonesia-Malaysia di Blok Ambalat.
Dikutip dari Kompas.id, KRI Nanggala pada Mei 2005 bertugas menjadi ujung tombak atau bersiap-siap, jika terjadi apa-apa maka KRI Nanggala akan maju.
Tugas tersebut sesuai dengan peran kapal selam yakni mengintai, menyusup, dan memburu sasaran strategis sesuai dengan keputusan politik pemerintah.
Ketika itu, KRI Nanggala-402 hanya menjadi kapal selam yang beroperasi sendirian karena KRI Cakra 401 tengah diperbaiki total di Korea Selatan.
Sebagai negeri maritim Indonesia membutuhkan keberadaan kapal selam.
Masih dari Harian Kompas, Minggu (3/9/2017) Laksama Ade Supandi Kepala Staf TNI AL saat itu menjelaskan, tujuan Indonesia membeli kapal selam adalah untuk meningkatkan efek gentar dan kemampuan perang bawah permukaan.
Dalam pemberitaan tersebut dijelaskan jika merujuk rencana strategis, Indonesia setidaknya harus membuat dan atau membeli kapal selam hingga tahun 2024.
Dibandingkan dengan luasnya laut Indonesia, jumlah 12 kapal selam adalah jumlah layak minimal Indonesia.
Korps Hiu Kencana
Mereka yang tergabung dalam tim yang mengoperasikan kapal selam Indonesia di jajaran TNI Angkatan Laut disebut dengan Korps Hiu Kencana.
Mengutip Harian Kompas, 29 Desember 2011, untuk menjadi ‘hiu’ butuh karakteristik khusus, terutama yakni wajib kuat mental.
Hal ini dikarenakan mereka harus menyelam berhari-hari dalam ruang tertutup berukuran kecil, sementara beban tugas dan risiko menyertai kru kapal selam.
“Orang suka mengira, kapal selam itu ada jendelanya bulat-bulat jadi kita bisa lihat ikan-ikan, padahal semua tertutup,” ujar Perwira Pelaksana KRI Cakra 401 Kapten Yulius Zaenal.
Selain kudu kuat menahan kejenuhan di dalam air, di ruang tertutup yang kecil,kru juga harus tenang menghadapi tekanan.
Karena itulah anggota Hiu Kencana disebut dengan pasukan khusus.
Prajurit yang bisa menjadi 'hiu' harus berdinas di TNI AL selama setidaknya dua tahun dan menjalani sejumlah tes dan pendidikan.
Setelah resmi menjadi kru kapal selam,pemeriksaan fisik dan psikis akan dijalani tiap enam bulan sekali. (Kompas.com)