Find Us On Social Media :

Pesawat Pembom Nuklir China Terobos Zona Udara Taiwan, Bentrokan Bersenjata Segera Meletus

By Seto Ajinugroho, Selasa, 30 Juni 2020 | 18:13 WIB

Pembom Nuklir China Terobos Zona Udara Taiwan, Bentrokan Bersenjata Segera Meletus

Sosok.ID - Taiwan sudah sangat jengkel dengan kelakuan China yang suka semena-mena melanggar batas wilayah negaranya.

Tak jarang kedua negara saling adu otot dalam skala ringan sebelum perang sungguhan meletus.

Namun Taiwan punya bekingan kuat dalam menghadapi China yakni Amerika Serikat (AS).

Yakni, apakah Amerika benar-benar akan membantu Taiwan jika pulau itu diserang.

Baca Juga: Tangis Pilu Ibu yang Hendak Dipenjarakan oleh Darah Dagingnya Sendiri Gegara Sepeda Motor : Saya Sedih, Padahal Dia Keluar dari Rahim Saya

Seorang mantan pejabat keamanan senior Taiwan memperingatkan agar negara itu waspada dan jangan terlalu banyak berharap.

Dalam insiden terakhir, menurut kementerian pertahanan Jepang, dua pesawat pembom PLA Xian H-6 secara singkat mendekati zona identifikasi pertahanan udara Taiwan dari timur pada hari Minggu setelah terbang dari Laut Cina Timur melalui Selat Miyako antara pulau-pulau Jepang Okinawa dan Miyakojima.

Dengan demikian, itu adalah serangan ke 10 oleh pesawat tempur PLA pada bulan lalu dan merupakan serangan yang ke-16 tahun ini. 

Mengutip South China Morning Post, para pengamat mengatakan keberadaan pesawat China itu dimaksudkan untuk berlatih dan siap menyerang di masa depan.

Baca Juga: Seperempat Abad Lebih Tak Pernah Lihat Langit, Wanita Ini Nyaman Dipingit sang Ibu Bak Tahanan, 12 Tahun Tak Kena Sampo Hingga Gimbal dan Tidur Ditemani Mayat Kucing

Langkah ini juga mengirim peringatan kepada AS agar tidak mendukung pulau itu.

Menanggapi serangan PLA baru-baru ini, AS juga telah mengirim banyak pesawat tempur, sebagian besar pesawat pengintai melalui wilayah udara Taiwan, termasuk enam pesawat pada hari Senin.

Inisiatif Probing SCS, sebuah think tank Universitas Peking, mengatakan operasi AS mungkin dimaksudkan untuk memantau aktivitas militer China di Selat Bashi dan Laut China Selatan.

Kementerian pertahanan Taiwan menekankan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas pergerakan di udara dan laut di sekitar Taiwan dan meminta masyarakat untuk tetap tenang. 

Baca Juga: Kepalang Lapar Tapi Telat Dibawakan Makan, Kuli Bangunan Ini Bacok Istri di Depan Umum, Saat Diciduk Polisi Pelaku Keburu Tewas Dikeroyok Warga

Akan tetapi, Su Chi, mantan sekretaris jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, mengatakan dia prihatin dengan situasi saat ini.

"Mengingat ketidakseimbangan militer antara Taiwan dan China, tidak adanya dialog lintas selat dan tidak ada mekanisme (komunikasi efisien) antara AS dan daratan, saya khawatir tentang situasi ini karena apa pun bisa terjadi," kata Su kepada South China Morning Post.

Su juga mengatakan dia sangat prihatin dengan tindakan pertahanan Taiwan yang baru-baru ini diusulkan oleh senator Josh Hawley, dengan mengatakan hal itu mungkin memberi harapan palsu kepada otoritas pulau itu tentang kemungkinan AS datang untuk menyelamatkan mereka.

Sebelumnya, Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang mengatakan, China lebih baik fokus memerangi virus corona baru yang bangkit kembali di Beijing dibanding "mengganggu" Taiwan dengan latihan militer di dekat pulau yang Tiongkok klaim sebagai wilayahnya.

Baca Juga: India Terancam Kisruh, Kasus George Floyd Terulang di Negeri Bollywood

Menurut militer Taiwan, pesawat tempur dan pembom Angkatan Udara China telah memendekati zona identifikasi pertahanan udara Taiwan setidaknya delapan kali dalam dua minggu terakhir.

"China sangat besar, dan tidak pernah berhenti menggunakan kekuatan untuk berurusan dengan Taiwan. China selalu, dengan epidemi yang begitu serius, mengirim pesawat dan kapal mereka di sekitar Taiwan, benar-benar mengganggu Taiwan," kata Su.

Dia menambahkan, Taiwan hanya ingin menjadi kontributor perdamaian regional.

"Saat ini, tampaknya gelombang kedua sedang terjadi di Beijing. China, sebagai negara besar, harus meletakkan kekuatan nasionalnya dalam menjaga orang, mengurangi dampak epidemi, dan menjaga perdamaian regional. Itu akan lebih baik," ujarnya Selasa (23/6), seperti dikutip Reuters.(*)

Artikel ini pernah tayang di Kontan dengan judul China versus Taiwan makin panas, pengamat: Ini mengkhawatirkan, apa pun bisa terjadi